Senegal Juara Piala Afrika, Final Ricuh, Mendy Jadi Pahlawan
by redaksi garisgol.com
Senegal menutup turnamen Piala Afrika dengan gelar juara usai mengalahkan tuan rumah Maroko 1-0 lewat extra time dalam final yang berakhir kontroversial di Rabat, Minggu (18/1). Laga sempat tertunda panjang setelah Senegal melakukan walk-off sebagai bentuk protes atas penalti hasil tinjauan VAR, sebelum Édouard Mendy menepis eksekusi Brahim Díaz dan Pape Gueye mencetak gol penentu.
5 fakta garisgol
Senegal menang 1-0 atas Maroko di final; gol Pape Gueye hadir pada awal extra time.
- Maroko mendapat penalti di injury time setelah VAR menilai ada pelanggaran El Hadji Malick Diouf terhadap Brahim Díaz.
- Senegal sempat meninggalkan lapangan; pertandingan berhenti sekitar 14 menit sebelum dilanjutkan.
- Díaz gagal mengeksekusi penalti dengan gaya Panenka dan diselamatkan Mendy.
- FIFA melalui Gianni Infantino menyebut insiden di final “tidak bisa diterima”, sementara CAF menyatakan akan meninjau kejadian dan dapat mengambil tindakan disiplin.
Senegal kembali berdiri di puncak Afrika. Dalam final Piala Afrika yang digelar di Rabat, Minggu (18/1), Senegal menundukkan tuan rumah Maroko 1-0 melalui extra time, namun kemenangan itu datang bersama kisah besar lain: kontroversi VAR, walk-off pemain, serta momen heroik Édouard Mendy di bawah mistar.
Pertandingan berjalan ketat dan penuh tensi sejak awal. Maroko dan Senegal saling bergantian menekan, dengan kedua kiper Yassine Bounou di sisi Maroko dan Mendy untuk Senegal dipaksa melakukan sejumlah penyelamatan penting. Skor 0-0 bertahan hingga memasuki masa injury time, sebelum drama utama pecah.
Di pengujung waktu normal, wasit meninjau monitor VAR dan memutuskan memberi penalti untuk Maroko setelah dinilai terjadi pelanggaran terhadap Brahim Díaz. Keputusan itu memantik protes keras. Reuters melaporkan Senegal kemudian meninggalkan lapangan dan pertandingan tertunda sekitar 14 menit, sebelum akhirnya para pemain kembali setelah dibujuk, termasuk oleh kapten Sadio Mané.
Ketika laga dilanjutkan, Maroko punya kesempatan emas menyudahi final tanpa perlu extra time. Namun Díaz memilih eksekusi Panenka chip pelan ke tengah yang dibaca dengan mudah oleh Mendy. Penalti itu menjadi “titik balik” yang mengubah psikologi pertandingan: Maroko kehilangan momentum, Senegal mendapat napas baru.
Baru empat menit memasuki extra time, Senegal menghukum lawannya. Pape Gueye mencetak gol kemenangan pada menit ke-94 untuk memastikan trofi sekaligus menutup final yang sudah telanjur panas. Bagi Maroko, kekalahan ini memperpanjang puasa gelar Piala Afrika sejak 1976.
Kontroversi tidak berhenti di peluit akhir. AP melaporkan Presiden FIFA Gianni Infantino mengecam kejadian di final sebagai sesuatu yang “tidak bisa diterima”. CAF juga menyatakan akan meninjau insiden dan mempertimbangkan langkah disiplin terhadap pihak yang terbukti melakukan pelanggaran. Senegal, di sisi lain, menegaskan emosi di lapangan tidak menghapus kerja besar mereka sepanjang turnamen dan Mendy menyebut walk-off terjadi “karena panasnya momen”.
Post a Comment for "Senegal Juara Piala Afrika, Final Ricuh, Mendy Jadi Pahlawan"