Real Madrid dan Xabi Alonso Berpisah, Ini Penyebabnya
by redaksi garisgol.com
Madrid-Real Madrid mengumumkan perpisahan dengan Xabi Alonso “atas kesepakatan bersama” setelah kekalahan 2–3 dari Barcelona pada final Piala Super Spanyol di Jeddah. Namun di balik frasa diplomatis itu, rangkaian masalah mulai dari performa yang tak meyakinkan, hasil buruk melawan tim besar, hingga dinamika ruang ganti membuat proyek yang awalnya diproyeksikan jangka panjang runtuh hanya dalam hitungan bulan.
5 fakta garigol
-
Status resmi: klub menyebut Alonso pergi lewat kesepakatan bersama, sehari setelah final Piala Super Spanyol kontra Barcelona.
-
Durasi singkat: Alonso baru sekitar tujuh bulan menangani Madrid sejak ditunjuk pada 2025.
-
Pengganti langsung: Álvaro Arbeloa dipromosikan dan akan menangani tim segera.
-
Indikasi friksi internal: laporan menyebut ada ketegangan dengan sejumlah pemain kunci di ruang ganti.
-
Pemicu momentum: kekalahan di laga besar dan performa yang dianggap tidak sesuai standar Madrid mempercepat keputusan klub.
Real Madrid menyampaikan perpisahan dengan Xabi Alonso menggunakan bahasa yang paling “rapi”: mutual agreement atau kesepakatan bersama. Tetapi publik sepak bola paham, di klub sebesar Madrid, frasa semacam itu kerap menjadi payung untuk keputusan yang jauh lebih keras: hilangnya kepercayaan. Kekalahan dari Barcelona pada final Piala Super Spanyol di Jeddah menjadi adegan penutup yang terlalu simbolik bukan sekadar kalah, melainkan kalah dengan cara yang membuat dewan dan ruang ganti menilai proyeknya tak lagi punya jalur pemulihan cepat.
1) Standar Madrid: proyek butuh hasil, bukan sekadar proses
Alonso datang membawa reputasi besar dan ekspektasi yang tidak realistis untuk klub yang hidup dari trofi. Masalahnya, “waktu” adalah mata uang paling mahal di Bernabéu. Ketika performa tidak meyakinkan, setiap hasil buruk otomatis berubah menjadi referendum atas pelatih, bukan fase transisi.
Laporan media arus utama menekankan bahwa harapan awal sempat muncul, tetapi perlahan terkikis oleh pertandingan-pertandingan besar yang tidak berjalan sesuai rencana baik dari sisi hasil maupun kualitas permainan. Di Madrid, kalah bisa diterima sesekali; yang sulit dimaafkan adalah ketika tim terlihat tidak punya kontrol, tidak punya identitas yang konsisten, atau kalah berulang kali dalam momen penentu.
2) Kekalahan di laga besar memukul “kredit” Alonso sekaligus ruang ganti
Final Piala Super Spanyol melawan Barcelona bukan satu-satunya parameter, tetapi menjadi pemicu karena terjadi di panggung yang sangat terlihat. Kekalahan 2–3 memberi alasan instan bagi pihak klub untuk menekan tombol evaluasi darurat, apalagi jika sebelumnya sudah ada akumulasi kekecewaan.
Yang paling menentukan bukan hanya skor, melainkan sinyal-sinyal bahwa Madrid belum stabil saat menghadapi lawan kelas atas. Dalam narasi media, kekalahan-kekalahan dari tim besar menjadi penggerus kepercayaan karena memunculkan pertanyaan: apakah metode Alonso cukup “Madrid”, cukup pragmatis saat dibutuhkan, dan cukup tegas mengelola detail pertandingan besar?
3) Identitas taktik belum “klik”: adaptasi cepat vs tuntutan instan
Pelatih baru biasanya butuh periode untuk menanamkan ide. Namun Alonso berada di situasi yang paradoks: ia datang dengan label pelatih modern, tetapi memimpin skuad dengan ekspektasi menang setiap pekan. Saat hasil seret, pelatih cenderung melakukan penyesuaian cepat rotasi sistem, perubahan struktur, modifikasi peran pemain yang di satu sisi menunjukkan fleksibilitas, tetapi di sisi lain bisa dibaca sebagai tanda belum menemukan formula terbaik.
Di klub seperti Madrid, ruang ganti yang berisi pemain elite juga punya preferensi: mereka mendukung taktik selama itu membuat mereka menang dan nyaman. Begitu hasil tidak sesuai, perdebatan peran—siapa harus turun menjemput bola, siapa harus disiplin tanpa bola, siapa yang “bebas” mengekspresikan diri mudah berubah menjadi ketegangan.
4) Dinamika ruang ganti
Salah satu poin paling krusial dari laporan-laporan kredibel adalah adanya indikasi ketegangan Alonso dengan pemain kunci. Di Madrid, ruang ganti bukan sekadar tempat ganti baju; itu pusat gravitasi kekuasaan. Jika pelatih kehilangan sebagian dukungan internal, dewan klub biasanya memilih opsi paling aman: mengganti pelatih sebelum situasi melebar.
Dari sudut pandang manajemen, friksi ruang ganti berbahaya karena dampaknya tidak selalu langsung terlihat di papan skor, tetapi merusak detail paling menentukan: intensitas latihan, kepatuhan pada rencana, dan respons tim saat tertinggal. Begitu klub mencium tanda-tanda ini, “mutual agreement” sering menjadi jalan keluar yang menjaga martabat semua pihak terutama karena Alonso adalah legenda klub.
5) Faktor dukungan klub dan konstruksi skuad: proyek butuh “alat kerja”
Setiap proyek pelatih butuh keselarasan antara ide pelatih dan keputusan klub terutama terkait kedalaman skuad, peran pemain, dan manajemen cedera. Beberapa laporan menyinggung konteks internal yang membuat tugas Alonso tidak ideal. Dalam situasi seperti ini, pelatih bisa terjebak: ia dituntut hasil, tetapi ruang untuk membentuk skuad sesuai kebutuhan tidak sepenuhnya berada di tangannya.
Karena itu, perpisahan semacam ini jarang punya satu sebab tunggal. Biasanya, ia adalah gabungan: performa kurang stabil + hasil buruk di laga besar dan relasi ruang ganti yang menegang dan keyakinan dewan yang menipis. Setelah final Piala Super, semua faktor itu bertemu dalam satu momen, dan Madrid memilih “restart” cepat dengan menunjuk Arbeloa.
Mengapa Arbeloa: sinyal “mode darurat” sambil menata ulang
Penunjukan Álvaro Arbeloa yang dipromosikan untuk segera menangani tim membaca situasinya sebagai langkah stabilisasi. Opsi internal memberi dua keuntungan: transisi lebih cepat (karena mengenal kultur klub) dan meredam gejolak ruang ganti karena figur “orang dalam” biasanya lebih mudah diterima di fase krisis.
Jadi, apakah Alonso “keluar” atau “dipecat”? Secara formal, Madrid menyebutnya kesepakatan bersama. Tetapi secara substansi, indikatornya khas: proyek kehilangan kepercayaan setelah akumulasi hasil dan dinamika internal, lalu diputus cepat demi menyelamatkan musim. Kekalahan dari Barcelona di Jeddah hanya pemantik terakhir bukan satu-satunya sebab
Post a Comment for "Real Madrid dan Xabi Alonso Berpisah, Ini Penyebabnya"