Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

MU 2-0 Man City, Analisis Taktik Carrick dan City Buntu


by redaksi garisgol.com

Manchester United menaklukkan Manchester City 2-0 di Old Trafford pada Sabtu, 17 Januari 2026, dalam derby Manchester ke-198. Di laga pertama Michael Carrick sebagai pelatih interim, MU tampil disiplin tanpa bola dan mematikan saat transisi, sementara City unggul penguasaan bola namun minim ancaman bersih. 

5 fakta garisgol

  1. Skor akhir 2-0: Bryan Mbeumo (65’) dan Patrick Dorgu (76’) mencetak gol kemenangan MU. 

  2. City dominan bola, MU dominan ancaman: penguasaan bola 31,8% vs 68,2%, tetapi tembakan tepat sasaran 7 vs 1 untuk MU. 

  3. xG timpang: MU 2,27 berbanding City 0,45, menggambarkan kualitas peluang MU jauh lebih tinggi. 

  4. Carrick menang di rencana transisi: laporan pertandingan menekankan MU “counter-attacking” dengan blok kompak yang membuat City kesulitan menembus. 

  5. Dampak klasemen: setelah pekan ini, City tertahan di 43 poin dan MU di 35 poin (22 laga) menurut rekap liga; posisi puncak ditempati Arsenal. 

Analisis MU vs Man City by garisgol

1) Gambaran besar: menang tanpa harus “menguasai”

City datang dengan pola klasik: menguasai bola, mendorong garis pertahanan tinggi, dan mengurung lawan. Tetapi derby ini jadi contoh bahwa dominasi penguasaan bola tidak otomatis berarti dominasi pertandingan. City memegang bola 68,2%, namun hanya menghasilkan 1 tembakan tepat sasaran angka yang biasanya menandakan serangan mereka tidak benar-benar “masuk” ke area berbahaya. 

Di sisi lain, MU “menerima” fase bertahan lebih panjang, tetapi setiap kali merebut bola mereka langsung berubah menjadi tim yang vertikal: cepat, langsung, dan menarget ruang di belakang garis City. Narasi ini selaras dengan laporan Opta Analyst dan Reuters yang menyoroti MU sangat efektif dalam skema counter-attack di era awal Carrick. 

2) Struktur bertahan MU

Kunci pertama MU ada pada jarak antarlini yang rapat. MU tidak terpancing pressing tinggi terus-menerus; mereka lebih memilih mid-to-low block yang rapi, menutup akses City ke zona sentral dan half-space (area di antara bek tengah dan bek sayap lawan yang sering jadi “jalur emas” City).

Hasilnya terlihat jelas di kualitas peluang: xG City 0,45. Ini bukan sekadar “City kurang beruntung”; ini cerminan bahwa mereka jarang mendapat tembakan dari lokasi dan situasi yang menguntungkan. 

Dalam laporan pertandingan, duet bek tengah MU dan kiper juga disebut penting meredam momen terbaik City. Itu membuat City seperti terus memutar bola tanpa menemukan “titik tembak” yang bersih. 

3) Rencana menyerang MU: transisi, bukan sirkulasi

Kunci kedua: MU tidak membangun serangan panjang untuk menyaingi City dalam sirkulasi—mereka memilih jalur kemenangan yang lebih realistis.

Indikatornya:

  • MU cuma membuat 240 umpan akurat berbanding 581 milik City, tetapi peluang bersih MU jauh lebih banyak. 

  • MU juga mencatat 7 tembakan tepat sasaran dari 11 percobaan—efisiensi yang tinggi. 

Dua gol menggambarkan pola ini:

  • Gol Mbeumo (65’) lahir dari situasi transisi cepat yang menempatkannya di ruang terbuka untuk menuntaskan peluang. 

  • Gol Dorgu (76’) datang dari serangan yang menembus sisi dan diakhiri penyelesaian jarak dekat setelah umpan rendah. 

MU “menang” bukan karena menguasai bola, melainkan karena menang di momen—momen saat City kehilangan struktur ketika menyerang.

4) Mengapa City tumpul: tiga masalah yang terlihat

(a) Terlalu nyaman di wilayah aman

City banyak menguasai bola, tetapi sebagian besar di area yang tidak memaksa MU panik. Ketika lawan bertahan rapat, Anda butuh kombinasi yang memecah garis atau tembakan berkualitas—dan itu tidak muncul.

(b) Minim ancaman bersih
Statistik tembakan tepat sasaran (1) dan xG (0,45) menunjukkan City jarang benar-benar menguji pertahanan MU. 

(c) Faktor energi dan ritme
Guardiola sendiri menyinggung timnya tidak berada pada level normal dan terasa kekurangan energi. Jika intensitas turun, “mesin” posisi dan rotasi City ikut melambat, dan tim lawan lebih mudah bertahan. 

5) Momen krusial

Ada momen kontroversial di awal laga terkait tekel Diogo Dalot pada Jeremy Doku yang memicu perdebatan kartu (diputuskan hanya kartu kuning dan bertahan setelah VAR). Ini tidak mengubah analisis utama soal pola permainan, tetapi menjadi salah satu titik panas pertandingan. 

Reuters juga melaporkan City mengalami beberapa situasi yang tidak berbuah gol (termasuk gol yang dianulir), namun secara umum menilai MU tetap tampil dominan dan pantas menang. 

Derby ini memberi “template” yang sangat jelas untuk Carrick:

  • Tanpa bola: rapat, disiplin, lindungi tengah, paksa City bermain melebar.

  • Dengan bola: vertikal, cepat, target ruang di belakang, dan klinis di kotak penalti.

Itu sebabnya gap kualitas peluang bisa sejauh 2,27 vs 0,45 meski MU kalah penguasaan bola telak. 

Man of the match versi Garis Gol: Bryan Mbeumo — bukan hanya karena gol pembuka, tetapi karena ia jadi ujung tombak efektivitas transisi MU.

Post a Comment for "MU 2-0 Man City, Analisis Taktik Carrick dan City Buntu"