Barcelona Taklukkan Real Madrid 3-2
by redaksi garisgol.com
Barcelona menjuarai Piala Super Spanyol 2026 setelah menang 3-2 atas Real Madrid pada final El Clásico di King Abdullah Sports City, Jeddah. Raphinha menjadi pembeda lewat dua gol, termasuk gol kemenangan pada menit ke-73 yang berbelok arah, dalam laga yang panas dan penuh drama gol di masa tambahan waktu babak pertama.
5 fakta garisgol
-
Final dimainkan di King Abdullah Sports City, Jeddah, dan berakhir Barcelona 3-2 Real Madrid.
-
Pencetak gol Barcelona: Raphinha (36’, 73’) dan Robert Lewandowski (45+4’).
-
Gol Real Madrid: Vinícius Júnior (45+2’) dan Gonzalo García (masa tambahan babak pertama).
-
Barcelona meraih gelar ke-16 Piala Super Spanyol.
-
Frenkie de Jong kartu merah pada masa tambahan babak kedua usai pelanggaran terhadap Kylian Mbappé.
Final Piala Super Spanyol 2026 kembali memanaskan El Clásico, dan kali ini Barcelona yang keluar sebagai pemenang. Bermain di King Abdullah Sports City, Jeddah, Barcelona menekuk Real Madrid 3-2 untuk mengamankan trofi pertama mereka di tahun kalender 2026, sekaligus mempertegas status sebagai tim tersukses di ajang ini dengan gelar ke-16.
Laga berjalan dengan dua wajah: Barcelona lebih rapi dalam membangun kontrol, sementara Madrid konsisten mengancam lewat transisi cepat. Perbedaan itu terlihat jelas pada momen-momen kunci terutama ketika pertandingan “meledak” di penghujung babak pertama, dan ketika Raphinha menemukan satu sentuhan yang akhirnya menentukan arah trofi.
Barcelona datang ke partai puncak dengan modal besar: kemenangan telak 5-0 atas Athletic Club di semifinal. Raphinha juga mencetak dua gol di laga itu, memperlihatkan bahwa ia sedang berada pada fase paling tajam musim ini.
Di sisi lain, Real Madrid melaju ke final setelah menyingkirkan Atlético Madrid 2-1. Gol cepat Federico Valverde dan penyelesaian Rodrygo mengantar Madrid menantang Barcelona di Jeddah.
Dalam narasi besar musim, final ini juga membawa bobot psikologis. Barcelona asuhan Hansi Flick berangkat sebagai pemimpin klasemen La Liga dengan 49 poin dari 19 laga, unggul empat angka dari Real Madrid jelang final sebuah konteks yang membuat hasil El Clásico ini terasa sebagai penegasan momentum.
Alur taktik: kontrol Barcelona, ancaman Madrid
Barcelona tampil dengan niat menguasai permainan: menekan lebih tinggi, menjaga jarak antarlini, dan mengalirkan bola cepat ke area sayap sebelum masuk ke half-space. Dengan profil pemain depan yang agresif, Barca mencari celah di belakang full-back Madrid memaksa lini belakang Madrid sering mengambil keputusan bertahan sambil bergerak mundur.
Madrid memilih respons yang lebih pragmatis: rapat saat tanpa bola, lalu mengalirkan serangan secepat mungkin ke sisi Vinícius Júnior. Pola ini tidak selalu butuh banyak sentuhan cukup satu duel yang dimenangi, lalu satu akselerasi, Madrid bisa mengubah situasi bertahan menjadi peluang.
Kuncinya adalah efisiensi. Barcelona terlihat lebih “mengendalikan,” tapi Madrid tetap sanggup menciptakan momen-momen besar saat mereka berhasil lolos dari tekanan awal. Pertandingan akhirnya ditentukan bukan oleh siapa yang paling lama memegang bola, melainkan siapa yang paling tajam memanfaatkan fase-fase paling berbahaya.
Babak pertama: tiga gol di injury time, ritme berubah total
Kebuntuan pecah pada menit ke-36. Raphinha membuka skor untuk Barcelona dan memberi hadiah pada dominasi fase awal Barca.
Namun bagian paling gila terjadi menjelang jeda. Vinícius menyamakan kedudukan pada masa tambahan waktu (45+2’) lewat aksi individu yang menghidupkan Madrid tepat ketika Barcelona berharap menutup babak pertama dengan nyaman. Barcelona membalas cepat melalui Lewandowski (45+4’) yang mengembalikan keunggulan, sebelum Gonzalo García membuat skor 2-2 di akhir rangkaian masa tambahan.
Tiga gol dalam injury time itu mengubah tekanan mental pertandingan. Barcelona sempat merasa “sudah memegang” babak pertama, sementara Madrid mendapatkan dorongan moral karena mampu bangkit dua kali hanya dalam hitungan menit.
Babak kedua: momen Raphinha, lalu bertahan dengan 10 pemain
Masuk babak kedua, tempo lebih terukur. Madrid tetap berbahaya dalam transisi, sementara Barcelona mencoba mengembalikan struktur permainan agar tidak terpancing bermain terlalu terbuka. Dalam fase ini, detail kecil menjadi besar.
Gol penentu datang pada menit ke-73. Raphinha melepaskan tembakan yang berbelok arah setelah mengenai pemain bertahan, mengecoh Thibaut Courtois. Gol inilah yang mengunci skor 3-2.
Drama belum selesai. Frenkie de Jong mendapat kartu merah pada masa tambahan babak kedua usai pelanggaran terhadap Kylian Mbappé, membuat Barcelona harus menahan serangan terakhir Madrid dengan 10 pemain. Meski unggul jumlah pemain, Madrid gagal menemukan gol penyama, sementara kiper Barcelona Joan García disebut membuat penyelamatan krusial untuk menjaga skor.
Pemain kunci: Raphinha jadi pembeda, Vinícius tetap ancaman
Raphinha adalah cerita utama final ini dua gol, termasuk gol kemenangan, dan kontribusi yang terasa dalam setiap fase menyerang Barcelona. Statistik golnya menegaskan perannya, tetapi yang lebih penting: ia hadir pada momen ketika pertandingan butuh satu keputusan berani.
Lewandowski memberi Barcelona “jaminan” di kotak penalti. Golnya di masa tambahan babak pertama menegaskan nilai striker yang hanya butuh satu situasi untuk mengubah nadi pertandingan.
Untuk Madrid, Vinícius adalah ancaman paling konsisten. Golnya pada 45+2’ menjaga Madrid tetap hidup dan memaksa Barcelona tidak lengah, terutama saat transisi.
Final ini bukan sekadar pesta gol, tetapi juga uji kedewasaan pertandingan. Barcelona menang karena lebih klinis pada momen-momen paling menentukan, lalu cukup tenang untuk bertahan ketika pertandingan memaksa mereka bertahan dengan 10 pemain. Madrid punya fase bagus dan sempat dua kali menyamakan skor, tetapi pada akhirnya satu detail gol defleksi Raphinha menjadi garis pemisah antara juara dan runner-up.
Post a Comment for "Barcelona Taklukkan Real Madrid 3-2"