Arsenal vs Liverpool: Ujian Sang Juara Bertahan di Kandang Pemuncak Klasemen
By editor garisgol.com
Atmosfer panas siap menyelimuti Emirates Stadium ketika Arsenal menjamu Liverpool pada Jumat, 9 Januari 2026 dini hari WIB. Laga ini bukan sekadar pertemuan dua tim besar Inggris, tetapi juga pertarungan pemuncak klasemen melawan juara bertahan liga. Arsenal saat ini kokoh di puncak Liga Primer dengan 48 poin dari 20 laga (15 menang, 3 imbang, 2 kalah), unggul enam poin dari pesaing terdekat Manchester City. Sementara itu, Liverpool tertahan di peringkat keempat dengan 34 poin, terpaut 14 poin di belakang Arsenal. Bagi Arsenal, ini adalah laga penting untuk menjaga jarak dalam perburuan gelar. Bagi Liverpool, duel ini krusial demi membuktikan status mereka sebagai juara bertahan sekaligus memperbaiki posisi dalam perebutan tiket Liga Champions. Atmosfer dipastikan intens – Emirates akan menjadi saksi apakah laju impresif Arsenal bisa terus berlanjut atau justru Liverpool yang bangkit dan “merusak pesta” sang tuan rumah.
Arsenal berada dalam performa terbaiknya. Pasukan Mikel Arteta mencatat tujuh kemenangan beruntun di semua kompetisi, termasuk kemenangan dramatis 3-2 atas Bournemouth di laga terakhir Liga Primer. Kemenangan di Vitality Stadium itu menunjukkan mentalitas pantang menyerah Arsenal, bangkit dari ketertinggalan dan memastikan tiga poin berkat dua gol Declan Rice dan satu gol Gabriel Magalhães. Rentetan kemenangan tersebut juga membuat Arsenal kian percaya diri memimpin klasemen. Dari sisi kebugaran, Arteta bisa tersenyum karena skuad hampir penuh. Hanya tiga pemain pelapis yang dipastikan absen akibat cedera: bek kiri Riccardo Calafiori, bek muda Cristhian Mosquera, dan gelandang muda Max Dowman. Artinya, pilar-pilar utama The Gunners tersedia. Bukayo Saka yang sempat diistirahatkan di laga sebelumnya siap kembali mengisi starting XI. Jurrien Timber juga telah pulih dan kemungkinan starter di pos bek kanan setelah absen panjang. Dengan skuad inti bugar, Arsenal dapat menurunkan formasi terkuatnya.
Sebaliknya, Liverpool datang dengan situasi tim yang agak timpang. Meski tak terkalahkan dalam sembilan laga terakhir di semua ajang (5 menang, 4 imbang), dua hasil imbang beruntun di awal tahun 2026 0-0 vs Leeds dan 2-2 vs Fulham menghambat momentum mereka. Skuad asuhan Jürgen Klopp (yang kini digantikan Arne Slot) harus menghadapi absensi pemain kunci. Top skor sementara Mohamed Salah absen karena membela Mesir di Piala Afrika. Penyerang anyar Alexander Isak juga dipastikan menepi akibat cedera patah kaki yang dideritanya bulan lalu. Gelandang bertahan Wataru Endo belum pulih dari cedera pergelangan, dan Stefan Bajčetić juga baru pulih latihan tetapi belum siap tanding. Sementara striker muda pinjaman Hugo Ekitike diragukan tampil karena cedera hamstring ringan. Dengan absennya Salah, Liverpool kehilangan sumber gol utama. Arne Slot/ Klopp kemungkinan mengandalkan Cody Gakpo sebagai ujung tombak setelah ia mencetak gol di laga terakhir kontra Fulham. Lini depan The Reds akan diisi pemain-pemain yang relatif baru bersinar: Florian Wirtz di sayap kiri dan mungkin Jeremie Frimpong di sayap kanan menggantikan peran Salah. Di lini tengah, trio Alexis Mac Allister, Dominik Szoboszlai, dan Ryan Gravenberch diprediksi tampil untuk mengisi absennya Endo/Bajčetić. Walau bermodal rekor tak terkalahkan belakangan ini, Liverpool harus membuktikan bisa bangkit dari dua hasil imbang mengecewakan dengan skuad yang tidak full team. Motivasi ekstra mungkin datang dari keraguan pundit bahkan analis seperti Chris Sutton di BBC memprediksi Liverpool akan kalah 0-2 dan menyebut Arsenal “berada di level berbeda” musim ini. Ucapan ini bisa menjadi pemicu semangat bagi The Reds untuk membuktikan diri di lapangan.
Head to Head
Sejarah pertemuan Arsenal dan Liverpool selalu menyajikan duel sengit. Secara keseluruhan, Liverpool sedikit unggul dengan 96 kemenangan berbanding 83 kemenangan Arsenal dari 245 pertemuan sepanjang masa (66 laga berakhir imbang). Namun dalam pertemuan terkini, Arsenal mulai mampu mengimbangi. Lima pertemuan terakhir di semua kompetisi menunjukkan hasil relatif berimbang:
- 31 Agustus 2025 – Liverpool 1-0 Arsenal (Liga Primer)
- 11 Mei 2025 – Liverpool 2-2 Arsenal (Liga Primer)]
- 27 Oktober 2024 – Arsenal 2-2 Liverpool (Liga Primer)
- 4 Februari 2024 – Arsenal 3-1 Liverpool (Liga Primer)
- 7 Januari 2024 – Arsenal 0-2 Liverpool (Piala FA)
Dalam lima laga tersebut, Liverpool menang 2 kali, Arsenal 1 kali, dan 2 kali seri. Pola pertemuan belakangan ini cenderung ketat dan sering menghasilkan banyak gol. Musim lalu kedua pertemuan liga berakhir imbang 2-2 yang dramatis, dengan Arsenal bahkan sempat bangkit dari tertinggal 0-2 di Anfield pada Mei 2025. Liverpool memang menjadi salah satu lawan tersulit Arsenal secara historis – Arsenal telah kalah 26 kali dari Liverpool di era Liga Primer, rekor kekalahan terbanyak mereka bersama Manchester United Bahkan, Arsenal selalu kebobolan dalam 20 laga liga terakhir kontra Liverpool sejak 2015; terakhir kali Arsenal mencatat nirbobol vs The Reds di liga adalah pada Agustus 2015. Ini menunjukkan bahwa Liverpool nyaris selalu mampu menjebol gawang Arsenal, tak peduli performa kedua tim. Namun, perlu dicatat pula Arsenal hanya kalah sekali dari tujuh pertemuan liga terakhir melawan Liverpool. Kekalahan tunggal itu terjadi di pertemuan pertama musim ini (Agustus 2025 di Anfield) ketika gol tendangan bebas spektakuler Dominik Szoboszlai memberi Liverpool kemenangan 1-0. Kini Arsenal bertekad membalas kekalahan tersebut di Emirates. Sebaliknya, Liverpool mengincar double (sapu bersih dua kemenangan) atas Arsenal musim ini – sesuatu yang sudah mereka lakukan tujuh kali di era Premier League . Rekor menunjukkan bahwa laga Arsenal vs Liverpool di Emirates kerap sengit; Arsenal menang di Emirates pada 2022 dan 2023, sementara Liverpool berhasil menahan seri beberapa kali. Kombinasi sejarah dan rivalitas ini menjamin pertandingan Jumat nanti akan sarat tensi.
Analisis Taktik
Mikel Arteta dan sejak Jürgen Klopp sampai Arne Slot sebagai penerus Klopp memiliki filosofi taktik berbeda yang bakal beradu di lapangan. Arsenal di bawah Arteta mengusung pendekatan dominan penguasaan bola. Formasi dasar 4-2-3-1 kerap digunakan Arteta untuk mengontrol ritme permainan. Dua gelandang pivot kemungkinan Declan Rice dan Martín Zubimendi akan bertugas menjaga keseimbangan, melindungi lini belakang sekaligus menjadi jembatan distribusi bola dari belakang ke depan. Arsenal membangun serangan secara sabar dari lini belakang, mengalirkan bola melalui umpan-umpan pendek terstruktur. Build-up play The Gunners sangat mengandalkan kesabaran dan presisi umpan pemain seperti Rice, Zubimendi, dan Ødegaard. Kapten Martin Ødegaard diberi peran bebas sebagai playmaker di belakang striker, didukung oleh holding midfield yang kuat. Dalam skema ini, Odegaard bisa naik membantu lini depan sementara Rice/Zubimendi tetap disiplin menjaga transisi. Arteta juga kerap menginstruksikan bek sayap untuk aktif membantu serangan secara terukur. Kembalinya Jurrien Timber di kanan dan masuknya Piero Hincapié di kiri memberi Arsenal opsi bek sayap yang solid dalam bertahan namun mampu memberikan overlap ketika diperlukan. Ketika menyerang, Arsenal sering menggiring bola ke sisi sayap untuk kemudian melakukan switch play cepat ke sisi berlawanan – biasanya mencari Bukayo Saka agar berduel satu lawan satu dengan full-back lawan. Pola ini efektif mengingat Saka piawai dalam situasi tersebut. Dalam fase transisi negatif (kehilangan bola), Arsenal akan menerapkan counter-pressing segera untuk mematahkan serangan balik lawan sebelum berkembang jauh. Kedisiplinan duo pivot dan kecerdasan posisi pemain seperti Rice sangat penting untuk memotong alur serangan Liverpool sedini mungkin. Secara umum, pendekatan Arteta adalah sabar menguasai bola, namun agresif segera setelah kehilangan bola.
Di kubu seberang, gaya Liverpool era Klopp identik dengan intensitas tinggi, pressing ketat, dan transisi cepat – ciri khas gegenpressing. Meskipun kini dilatih Arne Slot, banyak elemen pressing dan direct play ala Klopp masih melekat pada permainan Liverpool. The Reds biasa turun dengan formasi 4-3-3 atau 4-2-3-1 fleksibel. Musim ini Liverpool kerap menggunakan double pivot di tengah (misal Gravenberch–Jones atau Gravenberch–Mac Allister) untuk menopang pertahanan. Tujuannya jelas: melindungi lini belakang yang telah kebobolan 28 gol di liga jumlah yang tergolong tinggi (terbanyak kesembilan) musim ini. Dengan dua gelandang bertahan, Liverpool mencoba menutup celah di depan duet bek tengah Virgil van Dijk dan Ibrahima Konaté. Pola buildup Liverpool kemungkinan akan sedikit berbeda tanpa Salah. Mereka bisa bermain lebih melebar mengandalkan kecepatan winger seperti Wirtz atau Frimpong. Namun, karakter Liverpool tetap ofensif: begitu merebut bola, mereka akan cepat melancarkan transisi positif menuju pertahanan Arsenal. Umpan-umpan terobosan dan pergantian posisi lini depan dapat terjadi cepat untuk mengeksploitasi ruang kosong. Dalam hal pressing, Liverpool cenderung melakukan high-press di area Arsenal sejak awal. Pemain seperti Szoboszlai dan Mac Allister akan berusaha menekan gelandang Arsenal agar build-up tuan rumah terganggu. Tekanan tinggi ini membutuhkan koordinasi dan stamina, namun sudah menjadi ciri permainan mereka. Tantangannya, jika pressing lini depan terlewati, Liverpool menyisakan ruang di tengah yang bisa dimanfaatkan Arsenal. Oleh karena itu, duel lini tengah akan sangat krusial siapa yang bisa memenangkan pertarungan pressing vs passing di area sentral akan menguasai laga. Pelatih Klopp/Slot mungkin menugaskan Mac Allister sedikit maju sebagai pengganggu alur Arsenal, sementara Gravenberch dan Jones menjaga kedalaman. Liverpool juga akan memanfaatkan full-back dalam menyerang: Andrew Robertson kerap naik membantu serangan di kiri, sedangkan di kanan bek muda Conor Bradley atau Trent Alexander-Arnold (jika dimainkan) akan memberikan overlap. Pola ini berbahaya jika Arsenal kehilangan bola, karena full-back Liverpool langsung mengirim crossing atau cut-back ke kotak penalti. Namun agresivitas full-back ini juga bisa menjadi titik lemah: area yang ditinggalkan bisa dieksploitasi Arsenal lewat serangan balik cepat ke sayap.
Satu elemen penting adalah bola mati (set-piece). Menariknya, statistik menunjukkan kelemahan Liverpool musim ini dalam situasi bola mati, baik bertahan maupun menyerang. Liverpool telah kebobolan 13 gol dari situasi set-piece di liga musim ini terbanyak bersama Bournemouth yang mencakup 46,4% dari total gol yang mereka derita. Arne Slot bahkan menyoroti buruknya organisasi Liverpool menghadapi bola mati sepanjang periode padat liburan. Di sisi lain, Arsenal sangat kuat dalam situasi set-piece, memimpin liga dengan 12 gol (bersama Leeds) dan catatan expected goals (xG) 9,9 dari skema bola mati. Arsenal juga hanya kalah dari Leeds dalam hal jumlah gol set-piece tersebut. Artinya, keunggulan Arsenal dalam duel udara (berkat pemain seperti Gabriel dan Rice) serta eksekutor bola mati kreatif semacam Ødegaard bisa menjadi penentu. Jika Arsenal mendapat banyak sepak pojok atau tendangan bebas di sepertiga akhir, Liverpool patut waspada mengingat hampir separuh gol yang mereka kebobolan lahir dari skenario seperti itu. Dalam hal menyerang, Liverpool pun kurang optimal di bola mati – mereka berada di peringkat 18 liga untuk total Gol dari bola mati (hanya 4,7), indikasi bahwa ancaman mereka dari corner atau free-kick relatif minim. Jadi, secara taktik, Arsenal kemungkinan akan memanfaatkan setiap peluang bola mati untuk memecah kebuntuan, sedangkan Liverpool perlu disiplin ekstra agar kelemahan ini tidak terekspos di Emirates.
Duel Kunci
Pada laga sebesar ini, hasil akhir bisa ditentukan oleh duel individu di area krusial. Berikut tiga duel kunci yang layak diamati, lengkap dengan statistik pendukungnya
Bukayo Saka vs Andrew Robertson – Saka menjadi motor serangan Arsenal di sayap kanan. Dalam tiga penampilan liga terakhirnya, Saka melepaskan 10 tembakan dan mengemas 2 assist, menegaskan betapa aktif dan produktifnya winger 22 tahun ini. Ia juga punya rekor spesial kontra Liverpool: selalu mencetak gol dalam tiga laga kandang terakhir Arsenal melawan The Reds. Jika Saka bisa mencetak gol lagi di Emirates kali ini, ia akan menjadi pemain Arsenal pertama sepanjang sejarah yang mampu mencetak gol dalam empat laga home beruntun melawan Liverpool. Menghadapi Saka, kemungkinan besar bek kiri veteran Andrew Robertson yang diturunkan. Liverpool sempat merekrut bek kiri muda Milos Kerkez, namun performanya inkonsisten sehingga Robertson masih jadi pilihan utama. Robertson membawa pengalaman dan disiplin, namun usianya 31 tahun dan menghadapi winger lincah seperti Saka akan sangat menguras tenaga. Arsenal diyakini akan sering mengalihkan bola ke sisi Saka untuk mengeksploitasi duel satu lawan satu ini. Jika Robertson terpancing terlalu maju membantu serangan, ruang di belakangnya akan jadi sasaran Saka. Sebaliknya, bila Robertson mampu meredam Saka, alur serangan Arsenal bisa tersendat. Duel ini akan menjadi barometer: apakah Saka melanjutkan catatan gemilangnya vs Liverpool, atau Robertson yang menang pengalaman?
Leandro Trossard vs Conor Bradley - Di sayap kiri Arsenal, Leandro Trossard kemungkinan dipasang sebagai starter menggeser Gabriel Martinelli yang belakangan kurang tajam. Trossard sedang on-fire: dalam lima laga terakhir (liga) yang ia mainkan, ia mencetak 1 gol dan 1 assist, melepaskan 9 tembakan (2 on target), serta rata-rata menciptakan 2 peluang per laga. Pemain Belgia ini terkenal cerdik mencari ruang dan memiliki pengalaman Premier League yang kaya (186 penampilan). Ia akan berhadapan dengan bek kanan muda Liverpool, Conor Bradley, yang tampaknya terus dipercaya mengisi pos tersebut seiring cederanya Trent Alexander-Arnold. Bradley baru mengoleksi 44 penampilan liga sepanjang kariernya jauh di bawah jam terbang Trossard. Pengalaman vs pemuda menjadi tema duel ini. Trossard akan menguji positioning dan konsentrasi Bradley sepanjang laga. Jika Trossard mampu memanfaatkan celah dan kesalahan kecil Bradley, Arsenal bisa mendapatkan peluang emas dari sektor kiri. Sebaliknya, bagi Bradley ini ujian besar untuk membuktikan kemampuannya menjaga winger licin. Arsenal kemungkinan akan sering mengirim bola diagonal atau switching cepat dari kanan ke Trossard di kiri untuk mengisolasi Bradley. Statistik Liverpool menunjukkan mereka kebobolan rata-rata 1,4 gol per laga dalam 10 partai terakhir, dan sisi sayap kerap menjadi titik rawan. Duel ini penting: kontribusi Trossard bisa membuka kunci pertahanan Liverpool, sementara penampilan disiplin Bradley diperlukan agar sisi kanan Liverpool tidak menjadi lubang pertahanan.
Gabriel Magalhães vs Cody Gakpo-Di jantung pertahanan Arsenal, duet Gabriel dan Saliba akan mendapat tantangan dari penyerang utama Liverpool, Cody Gakpo. Dengan absennya Salah dan Darwin Núñez tidak lagi menjadi starter reguler, Gakpo menjadi tumpuan lini depan The Reds. Pemain Belanda ini sedang percaya diri usai mencetak gol di laga terakhir dan punya catatan menarik: tiga gol tandang Liga Inggris musim ini, semuanya ia cetak di kota London (vs Chelsea, West Ham, Fulham). Gakpo berpeluang menjadi pemain Liverpool kedua yang mampu mencetak gol tandang di empat stadion London berbeda dalam satu musim Liga Primer, mengikuti jejak Mohamed Salah. Artinya, ia sangat menikmati laga di ibu kota – sebuah peringatan bagi Arsenal. Gabriel yang kemungkinan ditugasi langsung mengawal Gakpo harus tampil waspada. Satu kelemahan Gabriel musim ini adalah momen lengah yang berujung blunder, seperti yang terjadi di laga vs Bournemouth (kesalahan Gabriel memberi gol pembuka bagi lawan sebelum ia tebus dengan gol balasan). Gakpo punya kemampuan pergerakan tanpa bola yang cerdas dan finishing tenang. Jika Gabriel terpancing keluar dari posisinya atau kalah duel udara, Gakpo bisa memanfaatkan untuk mencetak gol. Namun Gabriel juga sedang dalam tren positif – mencetak gol di dua laga beruntun sehingga kepercayaan dirinya tinggi Arsenal akan berupaya memotong suplai bola ke Gakpo, tapi ketika Liverpool melakukan serangan balik cepat, duel satu lawan satu antara Gabriel vs Gakpo tak terelakkan. Hasil duel ini akan berpengaruh besar: jika Gabriel (dibantu Saliba) sukses mematikan pergerakan Gakpo, Liverpool bisa kehilangan ancaman utama mereka. Sebaliknya, jika Gakpo menang duel dan mendapatkan peluang bersih, bukan tak mungkin tren gol tandangnya di London berlanjut di Emirates.
Statistik Penting
Data statistik hingga pekan ke-20 Liga Primer mendukung prediksi bahwa laga ini akan berlangsung seru. Arsenal memiliki catatan ofensif dan defensif yang lebih baik dibanding Liverpool sejauh musim ini. The Gunners mencetak 40 gol dan hanya kebobolan 14 gol dalam 20 pertandingan, menjadikan mereka salah satu tim tertajam sekaligus terkokoh di liga (selisih gol +26). Rata-rata Arsenal mencetak 2,2 gol per pertandingan liga dengan melepaskan 15,8 tembakan (5,7 on target) per laga. Produktivitas ini didukung penguasaan bola rata-rata 59,2%, menunjukkan dominasi Arsenal atas lawan-lawannya. Menariknya, tak ada satu pun pemain Arsenal yang sangat dominan dalam mencetak gol – top skor tim sementara adalah Leandro Trossard dengan 4 gol, disusul Eberechi Eze 3 gol, lalu Declan Rice dan beberapa pemain lain masing-masing 2 gol. Ini menandakan distribusi gol merata dalam tim Arsenal, sehingga lawan tak bisa hanya mematikan satu-dua pemain saja.
Di sisi lain, Liverpool mencetak 32 gol dan kebobolan 28 gol dalam 20 laga liga. Produktivitas mereka (1,4 gol per laga) jauh di bawah Arsenal, padahal rata-rata penguasaan bola Liverpool justru sedikit lebih tinggi yaitu 61,2% per laga. Tingginya penguasaan bola tidak sepenuhnya terkonversi menjadi gol; Liverpool rata-rata melepaskan 14,4 tembakan (hanya 3,9 on target) per laga jumlah tembakan total tak terpaut jauh dari Arsenal, namun shot on target lebih rendah. Ini mengindikasikan chance conversion Liverpool yang kurang optimal. Dari segi pertahanan, Liverpool kebobolan 1,4 gol per laga (banding 1,1 gol kebobolan per laga Arsenal). Banyaknya kebobolan Liverpool tak lepas dari inkonsistensi lini belakang dan problem bola mati yang sudah diuraikan sebelumnya. Dalam 10 laga liga terakhir, catatan rata-rata menunjukkan Arsenal lebih superior hampir di semua aspek: The Gunners menang 7 kali (dari 10), mencetak rata-rata 2,2 gol, dan hanya kalah sekali. Liverpool dalam 10 laga terakhir liga hanya menang 4 kali (4 imbang, 2 kalah) dengan rata-rata 1,4 gol per laga. Angka-angka tersebut selaras dengan posisi kedua tim di klasemen saat ini.
Statistik lain yang patut dicatat adalah performa kandang vs tandang. Arsenal sangat tangguh di Emirates mereka memenangkan tujuh laga kandang liga terakhir secara berturut-turut. Dukungan publik London Utara jelas menjadi faktor yang mendongkrak mental skuad Arteta. Sementara itu, Liverpool belakangan kurang menggigit di partai tandang; meski sempat meraih beberapa kemenangan, hasil imbang di Fulham menunjukkan kerentanan mereka di luar Anfield. Liverpool sebenarnya mencatat 59% penguasaan bola saat melawan Fulham di Craven Cottage dan unggul 2-1 hingga menit akhir, namun masih gagal mengamankan kemenangan. Konsentrasi hingga detik akhir menjadi PR bagi The Reds.
Dari sisi probabilitas, Opta Supercomputer menjagokan Arsenal dengan cukup telak. Dalam 10.000 simulasi prematch, Arsenal menang di 61,7% kemungkinan, imbang 20,2%, dan Liverpool hanya 18,1%. Peluang Arsenal untuk juara liga pun melejit ke 85,7% menurut model yang sama, sedang kans Liverpool nyaris nol (0,07%) akibat tertinggal jauh di klasemen. Tentu, pertandingan tetap harus dimainkan di lapangan – statistik bukan penentu mutlak. Namun data-data di atas menegaskan bahwa Arsenal layak difavoritkan pada duel ini.
Prediksi Skor
Berdasarkan analisis form, kondisi skuad, serta pertimbangan taktik dan statistik, Arsenal memiliki keunggulan nyata atas Liverpool jelang laga ini. The Gunners sedang on-fire, terutama di kandang sendiri, dengan kepercayaan diri melambung sebagai pemuncak klasemen. Sementara Liverpool datang tanpa sejumlah pilar kunci dan performa yang belum konsisten. Arsenal diprediksi akan mendominasi penguasaan bola sejak awal, memaksa Liverpool bertahan dan mengandalkan serangan balik. Absennya Salah mengurangi daya ledak serangan The Reds, meski Cody Gakpo dan Florian Wirtz bisa memberi ancaman sesekali. Duel lini tengah kemungkinan dimenangkan Arsenal yang turun dengan komposisi terbaiknya, sehingga kreativitas Odegaard dan kecepatan sayap-sayap Arsenal akan sering merepotkan pertahanan Liverpool. Selain itu, keunggulan Arsenal dalam skema bola mati bisa menjadi pembeda – satu gol dari situasi corner atau free-kick untuk tuan rumah sangat mungkin tercipta melihat tren musim ini. Di lain pihak, Liverpool tentu tidak akan menyerah begitu saja. Status underdog yang jarang mereka sandang bisa memompa motivasi skuad Klopp/Slot untuk tampil lepas tanpa beban. Liverpool masih punya pengalaman sebagai juara bertahan; mereka tahu cara meraih hasil di laga besar, terbukti pernah mengalahkan Arsenal di pertemuan pertama dan juga mengalahkan tim-tim kuat lain musim ini (seperti Man City dan Inter di ajang berbeda). Jika lini belakang Liverpool bermain disiplin dan Alisson tampil gemilang di bawah mistar, The Reds bisa saja menahan gempuran Arsenal lebih lama dari prediksi banyak orang.
Meski demikian, rasanya sulit melewatkan Arsenal sebagai pemenang melihat perbandingan kedua tim saat ini. Arsenal kemungkinan akan mencetak gol di babak pertama untuk memegang kendali laga. Liverpool bisa membalas di suatu momen – sejarah memperlihatkan Arsenal hampir selalu kebobolan lawan Liverpool – mungkin lewat serangan balik cepat atau momen kelengahan tuan rumah. Namun pada akhirnya, kedalaman skuad dan momentum positif Arsenal diyakini akan membuat mereka mampu mencetak gol penentu kemenangan di babak kedua. Pakar dan pundit banyak yang menjagokan Arsenal menang (bahkan ada yang prediksi 2-0 menang mudah. Garisgol memperkirakan pertandingan tidak akan semudah itu, tetapi tetap dalam kendali tuan rumah.
Prediksi skor: Arsenal 2-1 Liverpool. Dua gol Arsenal bisa datang dari kombinasi open play dan set-piece, sementara Liverpool berpeluang mencuri satu gol untuk menjaga tensi laga tetap ketat. Kemenangan tipis untuk Arsenal ini dipilih secara rasional melihat performa dan komposisi kedua tim, di mana Arsenal unggul di hampir semua aspek kecuali pengalaman juara Liverpool yang tak boleh diremehkan. Skor 2-1 juga mencerminkan fakta bahwa sebagian besar pertemuan Arsenal vs Liverpool belakangan selalu berjalan ketat dengan kedua tim saling mencetak gol.
Pertandingan big match Arsenal vs Liverpool ini layak disebut sebagai salah satu sorotan utama pekan ini di Liga Inggris. Situasi terkini membuat Arsenal berada di atas angin untuk meraih kemenangan, namun Liverpool punya reputasi sebagai tim besar yang kerap bangkit saat terpojok. Laga ini bukan hanya soal tiga poin, melainkan juga ajang pembuktian: Arsenal ingin menegaskan kredensial mereka sebagai calon kuat juara musim ini, sedangkan Liverpool ingin menunjukkan nyawa juara bertahan belum padam. Duel taktik Arteta vs Klopp (Slot) akan tersaji menarik apakah Arsenal dengan sepakbola kontrolnya mampu mengatasi agresivitas pressing Liverpool. Sorotan juga tertuju pada para pemain kunci di kedua kubu, dari Bukayo Saka hingga Virgil van Dijk, yang akan memikul beban hasil akhir. Apapun hasilnya, laga di Emirates Stadium ini dipastikan berjalan ketat, sarat gengsi, dan berintensitas tinggi. Para pencinta bola berharap menyaksikan permainan terbaik dari dua tim elit ini. Mampukah Arsenal melanjutkan jalur kemenangannya dan makin mendekatkan diri ke tangga juara? Ataukah Liverpool yang akan memberikan kejutan dan membuka kembali persaingan? Jawabannya akan tersaji di atas lapangan hijau Emirates pada Jumat dini hari – sebuah laga yang tak boleh dilewatkan.
Post a Comment for "Arsenal vs Liverpool: Ujian Sang Juara Bertahan di Kandang Pemuncak Klasemen"