Albacete vs Real Madrid: Dominan 78%, Madrid Tersingkir
by redaksi garisgol.com
Albacete-Real Madrid tersingkir dari Copa del Rey setelah kalah dramatis 2-3 dari Albacete di Carlos Belmonte, Rabu (14/1/2026) malam waktu setempat. Dalam debut Álvaro Arbeloa, Madrid mendominasi penguasaan bola namun kesulitan membongkar blok rendah lima bek Albacete, lalu dihukum lewat dua situasi bola mati dan satu serangan balik pada menit-menit akhir.
5 fakta garisgol
Skor akhir 3-2 untuk Albacete di babak 16 besar Copa del Rey; Madrid tersingkir.
Jefté Betancor mencetak dua gol, termasuk gol kemenangan di masa injury time.
Madrid tampil dengan banyak pemain pelapis; Mbappé, Bellingham, Rodrygo termasuk yang absen (Arbeloa juga menaikkan pemain Castilla).
Gim taktisnya jelas: Albacete memakai 5-3-2, Madrid 4-3-3 dan dominan bola.
Statistik menggambarkan “dominasi yang steril”: penguasaan bola 78% untuk Madrid, xG 1,32 vs 0,65; namun Albacete lebih klinis pada momen krusial.
1) Konteks yang membentuk pertandingan: rotasi, debut pelatih, dan atmosfer
Kekalahan ini tidak berdiri sendiri. Arbeloa baru mengambil alih setelah pergantian pelatih di awal pekan, dan ia memilih merotasi skuad, keputusan yang kemudian “dibayar” mahal karena Madrid terlihat belum padu menjalankan ide baru dalam waktu singkat. Arbeloa bahkan mengambil tanggung jawab penuh dan menekankan tim butuh ide yang lebih jelas saat menghadapi lawan yang bertahan dalam.
Di sisi lain, Albacete bermain di rumah dengan atmosfer padat dan kondisi berkabut yang menambah chaos situasional faktor kecil yang sering memperbesar efek detail: duel udara, pantulan bola, dan pengambilan keputusan sepersekian detik. Catatan redaksi: Reuters melaporkan adanya chant rasis yang menarget Vinícius Jr. sebelum laga. Ini konteks penting karena bisa memengaruhi atmosfer pertandingan dan fokus pemain, namun tetap harus diposisikan sebagai tindakan yang tidak dapat dibenarkan.
2) Peta taktik: 5-3-2 rapat vs 4-3-3 yang terlalu “melebar”
Albacete (5-3-2) memilih pendekatan yang sangat klasik: garis belakang lima, tiga gelandang menjaga half-space, dua penyerang siap jadi outlet counter. Hasilnya, Madrid boleh memegang bola lama (78%), tapi ruang tembak bersih di area sentral sangat minim.
Kunci dari rencana Albacete adalah mengunci sumber progresi Madrid:
Menutup umpan vertikal ke antara lini (zona no.10/half-space).
Memaksa sirkulasi bola melebar ke sayap dan crossing yang mudah diantisipasi jika kotak penalti sudah diisi bek.
Menyerang titik lemah saat transisi, terutama ketika fullback Madrid tinggi dan rest-defence (cover belakang) tidak siap.
Reuters juga menyebut Vinícius kesulitan karena dobel bahkan tripel marking di sisi kiri. Ini bukan sekadar “mengawal bintang”, tapi cara efektif memutus akselerasi dan membuat Madrid kehilangan opsi 1v1 sebagai pembuka kebuntuan.
Masalah Madrid: dominasi bola berubah menjadi dominasi “U-shape” (mengitari blok), bukan dominasi penetrasi. Indikatornya terlihat di data: 20 tembakan dan 11 sepak pojok, tetapi hanya 3 big chances angka yang menunjukkan produksi peluang besar tidak sebanding dengan volume serangan.
3) Duel kunci yang memutus alur: set piece dan “second ball”
Pertandingan ini pada akhirnya dimenangkan bukan lewat kombinasi 25 operan, melainkan detail fase bola mati dan perebutan bola kedua.
Gol 1 Albacete (42’): berawal dari corner. Umpan Jose Lazo disambut Javi Villar dengan sundulan di near post. Ini menegaskan dua hal: kualitas eksekusi bola mati Albacete dan kurangnya kontrol Madrid di zona duel udara.
Gol balasan Madrid (jelang HT): juga dari corner. Huijsen menang duel, kiper Albacete menepis, tetapi Franco Mastantuono menyambar rebound. Bagi Madrid, ini bukti bahwa mereka pun “terpaksa” mengandalkan set piece untuk membuka skor ketika permainan terbuka buntu.
Gol 2 Albacete (82’): lagi-lagi rangkaian corner dan gagal clear. Reuters menekankan Madrid tak membersihkan bola dengan baik dan Betancor mendapatkan ruang untuk menyelesaikan peluang. Ini pola yang sama: bukan sekadar kalah duel pertama, tetapi kalah mengamankan second ball.
Di momen-momen seperti ini, dominasi penguasaan bola tidak relevan yang relevan adalah siapa yang paling siap pada bola bebas di kotak penalti.
4) Mengapa Madrid “steril” meski unggul statistik?
Jika kita rangkum data utama: 78% possession, 20 shots, 11 corners, xG 1,32 Madrid seharusnya “minimal” tidak kalah. Tetapi sepak bola piala satu leg sering ditentukan oleh efisiensi dan manajemen risiko.
Ada tiga problem struktural yang tampak jelas:
5) Momen krusial: dari “selamat” ke “kolaps” dalam 4 menit
Madrid sempat merasa lolos ketika Gonzalo menyamakan kedudukan menjadi 2-2 di masa tambahan waktu. Namun problemnya: penyama kedudukan itu tidak diikuti kontrol emosi dan kontrol ruang.
Reuters menggambarkan adegan kunci: Madrid menekan, lalu terbuka di belakang. Betancor lepas di counter, tembakannya sempat diblok Carvajal, tetapi ia mendapatkan bola lagi dan melepaskan sepakan ke pojok atas. Ini adalah contoh textbook bahwa peluang terbaik kadang datang bukan dari dominasi bola, melainkan dari dominasi ruang saat lawan kehilangan struktur.
Albacete menang karena rencananya sederhana tapi presisi: bertahan rapat, matikan sisi kuat Madrid, menangkan bola kedua di set piece, lalu menghukum lewat transisi. Madrid, sebaliknya, menunjukkan problem klasik tim yang sedang transisi ide: dominan tetapi tidak tajam, dan terlalu rentan ketika pertandingan masuk fase “harus menang sekarang”.
Bagi Arbeloa, ini kekalahan debut yang brutal, tetapi juga peta masalah yang sangat jelas, cara menyerang low block, mekanisme rest-defence, dan detail set piece tiga area yang biasanya membedakan kandidat juara dari tim yang “sekadar” menguasai bola.
Post a Comment for "Albacete vs Real Madrid: Dominan 78%, Madrid Tersingkir"